Your Writing Shows Who You Are

source : pexels.com

Writing, like our speech, is a reflection of our thoughts and feelings. People can find out what we are thinking or feeling through our writing. Through our writing, people can understand what kind of topic we are interested or concerned in. Through our writing, people can get informations, inspirations or motivations. Through our writing, people can also judge what kind of person we are. That’s why we shouldn’t write something carelessly.

There’re two main things that must be obeyed by every writers : honesty and efforts. Many good writers really poured their heart into their writing. Their writing can be inspired by their own experiences or their circumstances. I know that there’s no 100% or absolute originality in writing because the idea of writing is actually a combination of various ideas that we rewrite again in our own writing style. Same ideas, same topics but different perspectives, different writing styles can make a distinction between one writing to another. You are allowed to be inspired or cite from other’s writing, but, plagiarism is not permitted. You are also not allowed to write a lie (e.g. fake news). Once you write a lie, people will see you as a liar. So, honesty is a must.

Although you’re still an amateur, although you still learn how to be a good writer, although you only write something based on what lies in your heart, you still need efforts to make it done. Do not ever make a writing carelessly even though you just post it on your social media (including your private blog). Do not ever make a writing carelessly just because there’re not many people read or click ‘like’ on your post. If you want to write an analysis about some of serious topics, you should read some references and even look for valid data to support your argumentations. Even you just write a fiction, you still need to read some references from other writers. Reading and writing are complemented toward each other. You can’t get rid of one of them.

If you want to post your writing or submit it to mass media, you have to do editing first. You can check if there’re typos and grammatical errors or not. Make sure there’s no contradiction between the title and content, each paragraphs and even each lines of the paragraph. Don’t underestimate the efforts even if it’s the smallest thing, because we’ll never know what will happen next to our life.

Writing requires persistence, patience and caution because your writing can show who you are. Whether people’s judgement of you are right or not, you still have to be careful of what you write. When you write a poem about heartbreak, people can assume you are broken hearted person. When you often write about culinary and travelling , people can assume you love to travel a lot and food lovers. When you write in a formal style, people can assume you as a serious person. So, how’s your writing says about you? Can you guess what kind of person I am or what I’m interested in based on my writings?

Have a great day everyone! Don’t forget to be happy

Limitation

Photo by Keenan Sultanik on Unsplash.com

Why do we build the walls between us?

Majority always win

Minority always lose

But, Allah never asks you to defeat them

Why don’t you make a friend each other instead of arguing over who’s right and wrong?

***

Why do we build the walls between us?

White is better than black

Black is uglier than white

But, Allah never makes this rule

Why don’t you treat them equally instead of feeling superior just because of your skin color?

***

Why do we build the walls between us?

Beautiful means bright skin, long hair, pointed nose, cherry lips, tall and body goals

The standard said that

But, Allah never judges you from your face or body

Why don’t you appreciate any kind of beauty instead of making those stupid beauty standard?

***

Why do we build the walls between us?

Success means money, big house, sport car, high degree, high position and love story like a fairy tale

Then, who are you, making such rules like that?

Allah will ask you, how did you get it all?

Why don’t you ask yourself, how impactful your life to others instead of making yourself become a robot who has no feeling?

***

The earth is round

The world is big

But, human loves to create limitation

Limitation between each group of society

Limitation on our minds

So, why do we build the walls instead of building the bridges?

Yogyakarta, June 28th, 2019-06.02 a.m.

Bahasa Indonesia Tergerus Oleh Bahasa Inggris?

sumber : unsplash.com

Mungkin teman-teman ada yang pernah memperhatikan para selebriti yang sering wara-wiri di TV kerap berbicara dalam Bahasa Indonesia campur Bahasa Inggris atau malah lebih sering berbahasa Inggris dibanding berbahasa Indonesia, seperti Cinta Laura, misalnya. Mungkin teman-teman sudah tidak asing dengan fenomena bahasa anak Jaksel yang suka pakai kata “which is, literally, basically” dst yang mana itu juga mencampuradukkan antara Bahasa Indonesia dengan Bahasa Inggris. Bahkan ada pula beberapa sekolah di Indonesia yang menerapkan bilingual atau dwibahasa dalam kegiatan belajar-mengajarnya. Di ruang publik pun, papan-papan reklame di pinggir jalan juga kerap kali menampilkan iklan dalam Bahasa Inggris.

Kemarin saya sempat membaca sebuah artikel tentang kebahasaan di salah satu media online terkenal tanah air. Di artikel itu penulis menyatakan keprihatinannya terhadap penggunaan Bahasa Indonesia yang sering kali tidak tepat dan kacau sehingga ada kekhawatiran Bahasa Indonesia akan tergerus oleh Bahasa Inggris. Apalagi dengan adanya bahasa gaul ala-ala milenials yang kekinian itu.

Penulis artikel juga mengungkapkan keprihatinannya akan kebiasaan mencampuradukkan pemakaian Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris yang sering dilakukan oleh seorang pendidik dan pejabat publik agar terlihat intelek. Menurutnya, menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar pun tidak kalah keren karena sebenarnya Bahasa Indonesia itu sangat kaya.

Bahasa Indonesia vs Bahasa Inggris

Kalau teman-teman sering membaca tulisan-tulisan saya di blog ini, teman-teman pasti akan lebih sering mendapati saya menulis dalam Bahasa Inggris. Kenyataannya memang benar. Sebagian besar tulisan saya di blog ini dalam Bahasa Inggris. Apakah itu mengindikasikan bahwa saya tidak cinta Bahasa Indonesia? Apakah itu berarti saya ‘keminggris’? Apakah saya ingin dipandang lebih keren dan intelek? Jawabannya adalah ‘tidak’.

Jujur, saya tidak peduli orang mau bilang apa tentang saya. Mereka mau bilang saya ‘sok british’ kek mau bilang saya banyak gaya kek mau menganggap saya sok keren, itu terserah mereka karena tujuan saya memang bukan untuk sok keren atau gaya-gayaan. Saya lakukan ini dengan tujuan BELAJAR sekaligus ingin berbagi pemikiran tidak hanya dengan orang-orang yang satu negara dengan saya, tapi juga orang-orang dari luar negeri. Ya, walaupun Bahasa Inggris saya sebenarnya tidak begitu membanggakan, tapi kalau saya tidak mencoba saya tidak akan pernah tahu seperti apa hasilnya.

Bagi generasi milenial (saya termasuk) berbicara bahasa gado-gado alias Bahasa Indonesia campur Bahasa Inggris tidak menjadi masalah. Penguasaan Bahasa Inggris penting bagi mereka karena sekarang ini zamannya globalisasi. Belum lagi ada data yang menunjukkan bahwa tingkat penguasaan Bahasa Inggris di Indonesia masih kalah dibanding negara tetangga, seperti Malaysia, Singapura, Filipina.

Lalu, bagaimana kita menyikapi fenomena ini? Menurut pendapat saya (teman-teman boleh setuju boleh tidak), berbicara bahasa gado-gado tidak masalah asalkan digunakan pada tempat dan saat yang tepat. Dan jangan lupa untuk memperhatikan siapa lawan bicara kita. Begini maksud saya. Kalau saya menggunakannya untuk percakapan informal, misal dengan teman-teman atau adik-adik saya, itu tidak masalah. Tapi ketika saya berada di forum resmi atau saya berbicara dengan orangtua, guru/dosen atau orang lain yang harus saya hormati, saya akan lebih memilih berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Ini semua demi kepantasan, kesopanan dan sikap menghormati mereka.

Hal yang sama juga saya terapkan dalam menulis. Ketika saya menulis di media yang cenderung ‘bebas’ dalam artian tidak terikat aturan baku berbahasa, misal menulis status di media sosial atau menulis di blog pribadi, saya bisa saja menulis dalam bahasa gado-gado. Bahkan tidak hanya campur antara Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris saja, Bahasa Jawa pun bisa saja saya masukkan biar trilingual sekalian. Ini pun juga kadang saya lakukan dalam percakapan informal.

Lain halnya jika saya menulis di media yang sifatnya lebih formal, misal di media online atau cetak yang mengharuskan kita untuk menulis dalam Bahasa Indonesia yang baik dan benar lengkap dengan EYD dan tetek-bengek kebahasaan lainnya. Hal ini berlaku juga dalam penulisan karya ilmiah, misal skripsi. Kalau ini sudah pasti saya harus ikut aturan entah suka atau tidak.

Kesimpulan dari tulisan receh saya hari ini adalah baik Bahasa Indonesia maupun Bahasa Inggris menurut saya sama-sama penting. Sebagai orang Indonesia kita harus bangga dengan bahasa kita sendiri dan tetap belajar untuk menggunakannya secara baik dan benar. Jangan dirusak dengan bahasa alay (#ups jangan ada yang ngambek, oke?). Dan sebagai bagian dari masyarakat internasional (globalisasi dengan segala kecanggihan teknologinya membuat kita seolah tidak berjarak dengan masyarakat di belahan bumi lainnya. Makanya saya pakai istilah ‘masyarakat internasional’), penguasaan Bahasa Inggris menjadi penting. Bagaimana bisa kita berinteraksi dalam pergaulan antar bangsa kalau kita tidak menguasai Bahasa Inggris? Dan satu hal lagi, walaupun ini tidak masuk dalam pembahasan saya, berbicara dalam bahasa daerah bukan berarti ndeso atau kampungan. Itu tetap keren karena telah membantu melestarikan bahasa daerah supaya tidak punah.

Sekian. Salam.

World Without Words (WWW)

Photo by Raphael Schaller on unsplash.com

Maybe without conscious I’ve used the words as a knife to leave blood marks and wide wounds in someone’s heart

Maybe I’ve created a war cause of the poisonous words I’ve written

Maybe I’ve twisted the words all the time so that lies becomes too perfect to be trusted

Maybe I’m too foxy to play with the words, so I can brainwash others to believe in false truth and attack the real truth with the threat

Me and the words are soulmate even though I often ruin it just to satisfy myself

One of us is gone, It will mean nothing

So, how if the world without words?

Yogyakarta, June 25th, 2019-09.43 a.m.

Sistem Zonasi : Kebijakan yang Tidak Adil?

sumber : tirto.id

Saya agak lupa kapan sebenarnya kebijakan ini pertama kali diterapkan. Yang jelas waktu zaman saya masuk SMA tahun 2010 lalu, kebijakan ini belum diberlakukan haha (bodo amat mbak. nggak penting -_-). Sistem zonasi sekolah memang setahu saya banyak menimbulkan pro-kontra disana dan disini. Ibu saya yang tahun ini ingin memasukkan adik laki-laki saya ke SMA juga jadi agak pusing karena kata beliau sistem PPDB yang sekarang nggak bisa cuma sekadar memprediksi kalau NEM segini bakal lebih aman masuk SMA mana biar nggak kelempar dan tetap bisa dapat sekolah, seperti zaman saya atau adik perempuan saya dulu. Sistem PPDB yang sekarang tidak hanya melihat NEM, tapi juga jarak tempat tinggal dari sekolah. Jadi, sistem zonasi ini mengharuskan calon peserta didik untuk mendaftar ke sekolah yang memiliki radius terdekat dari tempat tinggalnya masing-masing. Calon peserta didik bisa memilih 3 sekolah ketika mendaftar, dengan catatan sekolah yang bersangkutan masih memiliki slot siswa dan masih masuk dalam wilayah zonasi calon peserta didik tersebut.

Banyak orangtua dan bahkan anak-anaknya yang merasa sistem zonasi tidak adil karena anak-anak yang pintar dengan NEM yang tinggi jadi tidak bisa diterima di sekolah-sekolah favorit hanya karena tempat tinggalnya tidak masuk dalam wilayah zonasi. Sedangkan anak-anak yang ‘dianggap tidak pintar’ dengan NEM yang rendah bisa dengan mudah diterima di sekolah favorit hanya karena rumahnya yang berjarak lebih dekat dari sekolah tersebut. Makanya sampai-sampai ada yang beranggapan begini, ngapain susah-susah belajar, kalau dengan NEM rendah pun bisa masuk sekolah-sekolah favorit?

Sistem zonasi bagi anak-anak lulus SMP yang melanjutkan sekolah ke SMA juga menjadi kekhawatiran tersendiri. Salah satu sepupu saya yang tahun ini juga akan melanjutkan sekolah ke SMA pernah mengatakan pada saya, “kan kalau SMA-SMA favorit biasanya jatah untuk jalur undangan di perguruan tinggi lebih banyak dan banyak juga yang diterima lewat jalur itu. nah kalau yang SMA-SMA lainnya tuh kadang-kadang cuma dikit, mbak.”

Sebenarnya alasan dia benar juga sih. Saya juga merasakan soalnya. Kalau di Jogja, SMA favorit disini adalah SMAN 1 Yogyakarta dan SMAN 3 Yogyakarta. Saya ingat dulu waktu angkatan saya masuk kuliah, anak-anak SMAN 1 dan SMAN 3 benar-benar mendominasi jalur undangan di UGM. Sedangkan SMA saya yang berhasil diterima lewat jalur undangan di UGM hanya sekitar 40-an orang. Dan hal ini sepertinya masih berlangsung hingga sekarang. Saya nggak tahu, apa kampus-kampus negeri favorit di Indonesia punya kecenderungan untuk menerima anak-anak jebolan SMA-SMA favorit juga atau gimana. Jadi, ya, wajarlah kalau sepupu saya punya kekhawatiran seperti itu.

Lalu, kenapa sih pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memberlakukan sistem zonasi? Tujuan sistem zonasi ini sebenarnya adalah untuk pemerataan pendidikan di Indonesia. Mungkin biar yang maju nggak cuma sekolah-sekolah favorit aja kali ya, tapi seluruh sekolah di Indonesia.

Saya jadi ingat ketika bulan Mei lalu harus mengantar dan menemani ibu mengambil hasil UN adik laki-laki saya. Sebelum pembagian hasil UN, ada semacam sosialisasi PPDB dengan sistem zonasi dari kepala sekolah. Ibu kepala sekolah waktu itu berkata begini.

“Sebenarnya apa yang dikhawatirkan dari sistem zonasi ini? Takut tidak bisa masuk sekolah favorit di kota? Gengsi karena cuma sekolah ning ndeso? Saya rasa kalau masalah fasilitas sekolah, di Jogja ini sekarang yang punya fasilitas bagus tidak hanya sekolah-sekolah di kota, tapi yang di daerah pun, seperti Banguntapan, misalnya, itu juga punya. Jadi, apa artinya fasilitas dan gedung sekolah yang mewah kalau anaknya tidak terdidik dengan baik? Bukan sistemnya yang harus dipermasalahkan, tapi anak-anak lah yang harus didandani (Ind. : diperbaiki) intelektualnya juga moralnya agar kelak jadi orang yang bermanfaat. Anak-anak itu ibarat mutiara. Mutiara dimana pun ia berada, bahkan mau di tanah berlumpur sekalipun ia tetap mutiara yang indah.”

Tbh, I really appreciate her opinion. I like how she thought about it on different perspective than other people who against it.

Nah, terus, apakah sistem zonasi ini memang tidak adil seperti yang sering digembar-gemborkan orang? Saya pribadi tidak bisa serta-merta memberi jawaban “iya” atau “tidak” begitu saja. Mungkin Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memang ingin membuat perubahan yang lebih baik pada sistem pendidikan di Indonesia. Dan se-sok-tahuan saya, yang namanya perubahan bahkan perubahan yang bertujuan baik sekalipun, selalu mendapat respon yang “WOW”. Respon yang “wow” ini bisa berarti positif bisa juga negatif. Ada yang menerima dengan lapang dada dan pikiran terbuka, namun ada pula yang menolak dengan 1001 macam alasan. Ada yang siap, ada yang tidak. Makanya, kalau Anda ingin membuat perubahan, menjadi agent of change, Anda harus siap menerima penolakan. Padahal yang namanya penolakan itu sakit. Apalagi berkali-kali (lha kok malah curhat? -_-).

Perubahan itu memang prosesnya bertahap, nggak instan langsung bagus dalam sekejap. Bahkan kadang untuk bisa menjadi bagus dan diterima banyak orang butuh waktu bertahun-tahun, tidak hanya setahun dua tahun. Okelah, mungkin sistem zonasi ini masih banyak kekurangan disana-sini. Tapi, kan ada yang namanya evaluasi? Evaluasi saja tiap tahun pelaksanaannya seperti apa, kendalanya apa, sampai pada solusi untuk mengatasi masalah tersebut agar pelaksanaan di tahun berikutnya bisa lebih baik lagi.

Dan menurut saya lagi, kalau memang ingin ada pemerataan kualitas pendidikan di Indonesia, jangan cuma fokus pada fasilitas sekolah saja. Kualitas tenaga pengajarnya pun juga harus diperhatikan. Seleksi untuk menjadi seorang pendidik dibuat ketat. Kalau orang tersebut dirasa tidak layak atau tidak kompeten menjadi seorang pendidik, jangan diloloskan. Karena sejatinya profesi yang mulia ini harusnya diisi oleh orang-orang yang berintegritas dan memiliki jiwa pendidik dalam dirinya.

Sekian coretan receh dan sok tahu saya hari ini. Kalau ada yang sependapat, Alhamdulillah. Kalau ada yang tidak sependapat, tidak masalah. Kalau ada yang mau menghujat, silahkan saja. Tapi alangkah lebih baiknya kalau Anda menahan diri dari melempar hujatan. Eman-eman, hidup cuma sekali jangan kebanyakan dipakai menghujat orang.

Have a great Monday, everyone! Don’t forget to be happy!

Don’t Stop Writing Just Because No One Reads Or Likes Your Post!

photo by grammarly

Are you an amateur writter like me? Are you a new blogger? I know that making an interesting post is not easy (If you’re pro, I think it’s not a big deal, right?). I feel it myself. There’re many ideas, experiences, memories, informations fill in my head. When I want to write something, I’d like to think first, what should I write today?

I want to execute at least one of the best idea among them all then start to write it down. I put my efforts as best as I can to make it interesting or beneficial to the others (or at least for myself). I always check my work before posting to make sure that my writing is understandable for readers and no contradiction between the title and content or between each paragraph. I also check if there’re any typos and grammatical errors or not (tbh, I often feel insecure if I use proper grammar or not, because English is not my first language and I’m not an English speaker). If I feel like everything’s okay, then I’ll post it while expecting that my writing will get a good response or likes from readers. But, sometimes, it doesn’t happen. I didn’t get what I expect. Is the story related to you? How do you feel?

If you don’t get the amount of readers or likes as many as you expected, please, don’t stop writing! Don’t let it down your writing spirit! Don’t make the amount of readers and likes your main and only goal in writing! Writing is about sharing. If you stop writing, then you have nothing to share to the world. No one will never know your thought.

I remembered my music teacher on high school ever said to us, “there’s nothing bad in art, there’re only beautiful and very beautiful.” For some people, they might thought that what she said was just “a typical encouraging words” because she didn’t want to hurt her students’ feeling. In other words, she did it just for formality to hide her real thought of her students’ artwork. (Okay, let’s be honest, are you the one who think so?)

But, I think her words are not that wrong. I don’t care if you agree or not with me, but I think every art (music, painting, literature, drama etc) is beautiful as long as you create it with your heart. And if there’s someone who doesn’t like your artwork, whatever it is, it doesn’t mean that your artwork is suck. I think it’s just about their tastes or preferences. The taste or preference can be subjective, depends on the person. For example, I like K-Pop music, but my younger brother doesn’t. Does it mean K-Pop music is bad? I don’t think so. It’s just me and him have a different taste or preference in music. And of course, I can’t blame on him. I can’t even force him to like something that I like and vice versa. So, if there’s someone who doesn’t like your writing, maybe your writing doesn’t suit her/his taste or preference. Not because your writing is bad. Not because you have no talent in it. If you give up on writing just because of that, I can say that you’ve made an unwise decision ever.

Then, how if someone criticizes your writing? Actually, critics is not a big deal. I don’t think if someone criticizes your writing, means your writing is bad at all. Critics is so beneficial for our development. Critics can make your writing skills improve. So, if you receive criticism from others, it means your writing could be better than what you made before. You can be better than that. Don’t be too overthink. Start to evaluate your work, evaluate yourself and revise it.

On This Stage Play, The Truth Will Be Main Character

source : pixabay.com

This stage will be silent witness of the battle between the truth and lie

The mysteries will be unveiled, the conflict will be resolved (I hope)

We are being the spectators of the most complicated drama in this year,

the drama with the longest episodes ever

Everyone is waiting for the ending,

will it be sad or happy ending?

We are so curious of who’s the champion, who’s the loser

I’m so sick of this drama (so are you)

I hope it will end soon

I believe on this stage play, the truth will be main character

The truth will be the champion

And the justice will find a way to punish those who’re playing with fire

Yogyakarta, June 21st, 2019-11.32 a.m.

Argh…I’m Hurt!

photo by Valentino Antonucci on pexels.com

What’s success?

What’s the standard?

I’m just a young lady who lost in her quarter-life-crisis

Trying to find myself

Trying to find different way

Trying to break the rule, break the standard

Gonna proof to the world who I really am

***

But, wait, why it doesn’t work?

Did I make a wrong decision?

Did I choose a wrong path?

Am I blinded by my idealism?

Why is the reality more cruel than I’ve ever imagined?

My life compass seems broken

I lost my direction

Argh…I’m hurt!

Stressed

Depressed

Frustrated

Someone, please, save me!

***

I keep hearing those disturbing noises even from far away

You’ll never reach that level!”

You’re just a stupid-pathetic-jerk! Stop dreaming or you’ll fall to the gorge!”

Argh…I’m hurt!

Can you stop screaming straight into my ears?

***

Stressed

Depressed

Frustrated

Should I follow the others standard?

Should I follow the others perspective?

Seems like my idealism and reality stand up in paralel lines

I’m afraid

I’m insecure

Failed

Argh…I’m hurt!

Yogyakarta, June 20th, 2019-02.25 p.m. -me after hearing “Side Effect”-

3 Reasons Why I Love Writing A Poem

photo by Plush Design Studio on pexels.com

Basically, I divided my writings into 5 categories in this blog : articles, hobbies, opinions, poems and prose. But, most of my writings (at least above 50%) are categorized as poems. I really love writing. Although I love writing a poem a lot, sometimes I also write about some of serious things with deeper thought or analysis. Some people may have a tendency to like certain topics to write about, for example politics, religion, economics and business, finance, social and humanity issues, environment etc. Some people may prefer to write fiction, (such as poems, stories, prose, novel etc) than non-fiction. It can be based on preferences, tastes and specialities that each person has. Therefore, there’re many ways can be done to express your thoughts and feelings through writing. You can write an essays, paper, stories, poems and so on. Choose the one you master the most.

Actually, I have 3 reasons why I love writing a poem. So, let me explain here.

First, I can speak my mind about many things in a powerful yet smooth and beautiful way. Sometimes I write a poem based on my own experiences, such as moving on from broken heart (on poem “No Room For Heart Breaker Like You“), free myself from toxic people (on poem “I’ll End You With 7 Verses of Poem“), struggling to realize my dreams (on poem “Races“). Sometimes I write a poem based on social issues around us, such as body shamming and irrational beauty standard (on poem “Self Confidence“), spreading fake news and hate speech on virtual worlds (on poem “Where Are You Going To Return Your Words?“). Sometimes I write a poem based on my questions about life which is a bit of philosophical, such as my thoughts about time (on poem “If The Time Turns Into A Ghost, Where Are You Going To Hide?“), people’s perspective in judging a problem (on poem “Perspective“). All of my poems I mentioned above are in this blog.

Second, I can control my emotions better through writing a poem. If I’m angry, my anger won’t too explode, so I won’t hurt anyone or destroy something. If I’m happy, my happiness won’t neglect me from showing my gratefulness toward Him. If I’m sad, my sadness won’t make me down or depressed because there’s always a better gift which He has prepared for me in the future. Instead of releasing my emotions in a negative way, I’d better express it through writing, especially writing a poem.

Third, I can speak my mind louder without screaming, can cry without tears. Tbh, I’m not a good talker. I’m having trouble at expressing my feeling. So that’s why I prefer write a poem to tell my problems. Whether people will realize it or not, I always feel better after writing.

Is there anyone who loves to write a poem like me? Any reason why?

I Still Write A Poem About You

photo by sheep on pexels.com

Do you remember when we chased each other in the rain to come first at the bus stop? You overtook me at the junction while mocked at me. I got sulky and hit you playfully when I came behind you. Then we laughed together. We were still 15 years old back then. And we’re proud of doing this sillyness.

Do you remember when we sent warm greetings towards each other on the radio every night? You and I were radio listeners, radio lovers. Maybe the current generation never know how it feels about send greetings or just request a song for your friends, crush, boyfriend/girlfriend or ex through the radio anymore. Like we did when we were still teenagers.

Do you remember when we met an annoying old man who made a fuss on the bus? All of passengers were quiet. Paying attention of what’s happening. We stared each other while hold our grudges. When we getting off of the bus, we released our nags. We cursed him a lot.

I still write a poem about you not because I’m sad we can’t be together anymore. I just want to thanked you for making a great memory with me.

I still write a poem about you not because I’m still love you even though I’ve ever had a crush on you when I was in middle school. I just want to keep our secrets and stories in my journal, so I can open it again when I feel like giving up about my life and dreams.

Yogyakarta, June 18th, 2019-11.53 a.m.