Poems – A Pen

I thought you have this tool in your pencil case

Maybe you often bring it everywhere you go

When yo go to school.work or travel around the world

For some people this tool is like their companion, even for me too

With this tool, you can say any hopeful and encouraging words

But, you can also attack others with your bad words

With this tool, you can inspire or change their minds to be more positive

But, you can also spread rumor, fear and negativity to make others afraid and hopeless

With this tool, you can receive compliments because of your amazing skills or stories

But, you can also receive criticism, whether it is good or not

Like a coin, it has two side that you can choose

It can be light or dark

It can be nice like a daydream or terrible like a nightmare

For me, I’ll turn it into something that I can use to write my own history

Is it okay if I crave your attention through this path?

I’m still young, I’m still lacking of my skills, but nobody can stop me

Please wait, I’ll make my pen sharper someday

Yogyakarta, March 28th, 2019-05.44 a.m.

Poems – Our Dreams

When did you dream for the last time?

Are you still afraid?

Please, don’t worry, I’ll be by your side

I’ll accompany you with my existence

Existence that reflects on every poems I wrote

Even though I still try to find my own style;

even though I often feel difficulties on explaining my thoughts and emotions through the words;

even though people will ignore or laugh at my works;

No one can create the boundaries of our dreams

Whoever do that, ignore, walk away

Whatever the obstacles are, break them all

The one who knows your weakness and strength is you

You know better what you can and can’t do

Don’t let them tell you otherwise

They might bring us down

underestimate our dreams;

stopping our steps;

rejecting our existence;

But, as long as we believe in ourselves

As long as we believe in His power

Success will follow us at the end

Yogyakarta, March 27th, 2019-04.36 a.m.

Mungkin Dunia Sudah Mulai Gila

Kawan, bukankah bumi ini bulat?

Tapi mengapa kita hidup dikotak-kotakkan?

Kawan, bukankah pelangi di langit sana punya tujuh warna berbeda?

Sepertinya semua senang melihatnya. Tapi, mengapa saat aku berbeda kau marah? Mengapa kau ingin kita jadi sama semua?

Kawan, bukankah Tuhan tidak pernah menilai kita hanya dari rupa?

Tapi, mengapa kau begitu mudah berburuk sangka? Padahal kau belum tahu seperti apa di dalamnya. Kau tak punya hak untuk menghakimi hanya dari apa yang tampak di luarnya.

Kawan, bukankah kau tahu bahwa hanya Dia Yang Maha Benar?

Tapi, mengapa kau klaim kebenaran hanya ada padamu dan kelompokmu saja? Kata-katamu manis namun penuh bisa. Logika yang sengaja kau jungkir balikkan. Fakta yang kau pelintir dan sembunyikan. Maaf kawan, aku tak kan semudah itu percaya.

Kawan, bukankah kau telah dibekali oleh Yang Maha Kuasa hati dan akal?

Tapi, mengapa hawa nafsumu yang kau pertuhankan? Hutan-hutan dijarah; sungai-sungai dijadikan tempat sampah; sawah-sawah digantikan oleh rumah-rumah.

Kawan, mungkinkah dunia ini mulai gila?

Anak-anak durhaka pada orangtuanya;

murid-murid sudah berani menantang gurunya;

orang-orang pintar membodohi sesamanya, menebar tipu daya;

orang-orang kaya berlomba menumpuk harta, lupa pada mereka yang harus bersusah payah sekadar untuk bisa makan;

para penguasa sibuk berebut singgasana, lupa pada amanah yang diembannya, lupa pada rakyat yang harus diurusnya

Ya, kawan, mungkin dunia sudah mulai gila

Yogyakarta, 26 Maret 2019-09.00

Peran Keluarga Dalam Menumbuhkan Budaya Literasi

boy reading on floor between library shelves
sumber : http://www.inovasee.com

Secara bahasa, literasi dapat diartikan sebagai keberaksaraan, yaitu kemampuan membaca dan menulis. Dalam Bahasa Inggris disebut literacy yang berarti kemampuan membaca dan menulis (the ability to read and write) dan kompetensi atau pengetahuan pada bidang tertentu (competence or knowledge in a specified area). Memang ada beberapa pendapat mengenai pengertian literasi itu sendiri. Namun secara garis besar, literasi dapat diartikan sebagai kemampuan melek aksara yang didalamnya meliputi membaca dan menulis.

Budaya literasi yang baik merupakan salah satu tolak ukur kemajuan peradaban suatu bangsa. Negara-negara maju rata-rata memiliki budaya literasi yang baik dengan jumlah masyarakat yang buta huruf rendah. Literasi berhubungan erat dengan kesadaran masyarakat suatu negara akan pentingnya pendidikan karena pendidikan adalah modal dasar untuk kemajuan sebuah bangsa. Literasi juga dapat menjadi penanda akan kekayaan budaya yang dimiliki suatu bangsa karena banyaknya karya yang ditulis oleh penduduk di negara tersebut menunjukkan kekayaan pengalaman dan pengetahuan penduduk dalam menyikap kehidupannya. Dengan demikian negara tersebut banyak menghasilkan bacaan-bacaan yang beragam dan berkualitas sehingga memperkaya khazanah keilmuan suatu bangsa.

PISA atau Programme for International Student Assessment merupakan program internasional tiga tahunan yang diselenggarakan oleh OECD (Organization for Economic Cooperation and Development) untuk memonitor literasi membaca, kemampuan matematika dan kemampuan sains bagi siswa berusia 15 tahun dengan maksud mengevaluasi dan meningkatkan metode pendidikan di suatu negara. Untuk menunjukkan bahwa suatu negara memiliki tingkat literasi membaca, matematika dan sains yang baik, OECD telah menetapkan standar rata-rata internasional dengan skor 500. Data terbaru yaitu tahun 2015 menunjukkan Indonesia masih berada di peringkat 10 besar terbawah dari 72 negara yang disurvey dengan skor rata-rata 395. Hasil ini meningkat sebesar 1 poin dari tahun 2012 lalu. Dengan skor yang  berada di bawah rata-rata yang ditetapkan oleh OECD menunjukkan bahwa literasi di Indonesia masih tergolong rendah. Hal ini diperkuat juga dengan survey dari UNESCO yang menunjukkan tingkat literasi membaca di Indonesia hanya 0,001% yang berarti dari 1000 orang hanya 1 orang yang memiliki minat baca tinggi. Masyarakat Indonesia rata-rata membaca 0-1 buku per tahun. Bandingkan dengan negara maju lainnya, seperti Jepang dan Amerika Serikat yang rata-rata mampu membaca 10-20 buku dalam setahun.

sumber : http://www.businessinsider.com.au

Faktor yang Menghambat Tumbuhnya Minat Baca

Ada beberapa faktor yang menghambat tumbuhnya minat baca pada masyarakat Indonesia, seperti penggunaan gawai yang berlebihan dan kurang bijaksana, sarana membaca yang minim atau kebiasaan membaca yang tidak dibiasakan sejak dini. Masyarakat Indonesia masih lebih suka menonton televisi dan video dibandingkan membaca. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), masyarakat Indonesia rata-rata menghabiskan waktu hingga 300 menit atau 6 jam  per hari untuk menonton televisi.

Solusi Membangun Budaya Literasi yang Baik

Membangun budaya literasi yang baik tentu bukan pekerjaan yang bisa jadi dalam sehari semalam. Menumbuhkan budaya literasi seharusnya dimulai sejak dini dari lingkungan keluarga. Keluarga terutama seorang Ibu seharusnya bisa memberi contoh dan panutan pada anak-anaknya agar mencintai membaca. Seorang Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Sebelum anak-anak menempuh pendidikan formal di sekolah, mereka akan terlebih dulu belajar tentang nilai-nilai kebaikan dan kebiasaan yang baik dari orangtuanya terutama dari ibunya. Jika Ibunya tidak membiasakan diri membaca dan lebih senang menonton sinetron, misalnya, bagaimana mungkin ia akan membuat anaknya suka membaca? Bukankah anak-anak (apalagi yang masih kecil) biasanya akan meniru orangtuanya?

Selama ini kebanyakan orangtua hanya mengajarkan kepada anak-anaknya sebatas bisa membaca saja belum menjadikannya sebagai kebiasaan apalagi kebutuhan. Padahal menjadikan membaca sebagai kebiasaan butuh kedisiplinan dan konsistensi yang tinggi. Melatih anak-anak untuk suka membaca dapat dilakukan dengan berbagai cara yang menyenangkan. Jika anak belum memasuki usia sekolah, kegiatan literasi dapat dilakukan dengan cara membacakan cerita atau mendongeng sebelum anak akan tidur dan sesekali bisa meminta anak untuk menceritakan kembali cerita dari buku yang telah dia baca. Jika anak yang sudah memasuki masa sekolah atau minimal sudah mulai lancar membaca dan menulis, bisa dilakukan dengan meminta anak untuk menceritakan kembali materi apa saja yang sudah dia pelajari di sekolah atau mengajarkan anak untuk menulis buku diary tentang kegiatan-kegiatannya maupun kejadian-kejadian menyenangkan dan tidak menyenangkan yang dialaminya pada hari itu. Memfasilitasi anak-anak dengan bahan bacaan yang berkualitas sesuai dengan usianya juga menjadi hal yang sangat penting. Orangtua dan anak pun bisa juga membuat jadwal dan kesepakatan akan meluangkan waktu selama berapa jam untuk membaca per harinya dan jika tidak dilakukan maka apa konsekuensinya. Hal ini secara tidak langsung juga mengajarkan anak untuk disiplin dan bertanggungjawab terhadap komitmen yang dibuatnya. Dengan demikian, kesadaran akan pentingnya literasi dapat tumbuh dalam diri setiap anak dan ketika anak tumbuh dewasa ia akan jadi pribadi yang berwawasan luas, mampu memandang suatu masalah dari berbagai sudut pandang hingga mampu mengambil keputusan atas hidupnya. Mereka akan tumbuh menjadi generasi penerus bangsa yang mampu melanjutkan tradisi keilmuan di Indonesia sehingga negara ini dapat maju dan berkembang.

sumber pustaka : https://www.kompasiana.com/frncscnvt/5c1542ec677ffb3b533d6105/pisa-dan-literasi-indonesia

https://www.dakwatuna.com/2016/06/17/80973/literasi-dan-peradaban-manusia/amp/

https://www.educenter.id/5-penyebab-rendahnya-budaya-literasi-di-indonesia/

Menulis Untuk Kebebasan Diri

Tulisan ini saya buat selaku penulis pemula yang baru mulai belajar menulis kurang lebih 3 bulan. Apa yang saya tulis disini bersifat subjektif, berdasarkan pendapat pribadi. Mungkin kalian ada yang punya pandangan lain tentang hal ini.

Kalau kalian buka blog ini, kalian akan dapati tulisan “Share My Thoughts And Emotions” pada halaman situs saya. Ya, itulah salah satu alasan saya jatuh cinta pada aktivitas ini. Menulis membuat saya merasa lebih bebas dan lega. Dengan menulis saya merasa bebas mengungkapkan apapun yang saya pikirkan maupun rasakan. Tentunya kebebasan disini bukan tanpa aturan dan etika. Menulis tetap ada aturan dan etika yang harus ditaati, seperti tulisan harus dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya (apalagi kalau tulisannya adalah tulisan ilmiah maka harus didukung dengan data-data yang valid), tidak menyinggung isu SARA, tidak mengandung fitnah maupun ujaran kebencian dan lain-lain. Selain itu tulisan juga harus memperhatikan EYD, penyusunan kalimat (jangan terlalu berbelit-belit agar tidak membingungkan pembaca) dan bebas dari typo. Untuk ide yang akan dituangkan dalam bentuk tulisan, gaya kepenulisan, itu terserah diri masing-masing. Tulis saja apapun yang dikuasai dan disukai.

Menulis memberikan saya kebebasan tersendiri yang tidak saya peroleh dari lingkungan maupun orang-orang terdekat saya. Menulis membebaskan saya dari rasa stress akibat terlalu banyak hal yang menumpuk dalam pikiran dan hati. Daripada stress itu saya lampiaskan ke hal-hal negatif atau kalau dipendam sendiri malah buat saya makin tersiksa, akhirnya saya tuliskan saja segala beban itu. Dengan begitu saya akan merasa jauh lebih lega dan tentu saja saya bahagia melakukannya.

Yang tidak kalah penting lagi adalah menulis telah menjadi tempat pelarian saya dari hiruk-pikuk dan hingar-bingar dunia. Tempat pelarian saya untuk menyepi sejenak sambil berkontemplasi. Oleh karena itu, tidak jarang tulisan-tulisan yang saya buat merupakan hasil dari perenungan saya terhadap suatu hal.

Menulis membuat saya bebas mengekspresikan apapun yang saya rasakan. Jujur, saya termasuk orang yang sering menyembunyikan emosi saya yang sesungguhnya. Saya juga tidak pandai mengungkapkan apa yang saya rasakan secara lisan pada orang lain. Nah, dengan menulis lah saya bisa mengekspresikan perasaan saya dengan lebih jujur. Entah itu perasaan bahagia, sedih, kecewa, benci, cinta, takut, marah bahkan juga harapan-harapan dan mimpi-mimpi saya sekalipun dapat saya tuangkan dalam tulisan.

Pesan Untuk Sahabatku Yang Pergi Merantau

sumber : http://www.boombastis.com

Ingatkah kau saat kita membicarakan akan kemana setelah lulus kuliah? Aku ingat betul bahwa kau berambisi untuk menaklukan ibukota. Tentu dengan berbagai alasan. Entah itu alasan gaji yang lebih tinggi, kesempatan dan peluang yang lebih banyak, atau karena kau berpikir bahwa tak ada apa-apa dan tak ada yang bisa kau lakukan jika hanya di desa. Mungkinkah kau malu menyandang gelar sarjana tapi cuma urus sawah? Cuma angon kambing? Bukankah kau pernah berkata padaku untuk tak perlu malu dengan pekerjaanmu selama itu halal?

Aku bukan ingin menghalangimu meraih cita-citamu. Aku tak hendak melarangmu untuk bermimpi. Setiap orang berhak punya mimpi, termasuk aku juga kau. Kau boleh lakukan apapun asal itu baik, begitu juga aku. Kau boleh jadi apapun asal bisa bermanfaat, begitu juga aku. Kau boleh pilih dan tentukan sendiri jalan hidupmu, begitu juga aku. Bukankah hidup itu pilihan? Kau bisa pilih apakah akan jadi pemenang atau pecundang. Kau bisa pilih apakah akan tetap setia pada kebenaran atau justru bangga dengan kebohongan dan kepalsuan.

Kau sama seperti halnya aku, sama-sama telah dewasa. Kita sama-sama tahu bahwa dunia ini tak hanya soal hitam dan putih belaka. Kalau kau memang ingin pergi ke ibukota, tetaplah jadi manusia disana. Manusia yang tidak hanya fisiknya saja tapi juga pikiran, hati dan sifat-sifat kemanusiaannya. Tetaplah bersahaja dan sederhana seperti yang selama ini kukenal.

Yogyakarta, 20 Maret 2019-21.02

Orkestra Rintik Hujan

sumber : bmop.org

Duduk termenung di dekat jendela

Terhanyut dalam alunan rintik hujan yang syahdu

Bagai lagu pengantar tidur yang menggiring siapapun ke alam mimpi

Bagai lagu rindu yang menghempaskanku pada kenangan masa lampau

Bagai lagu cinta yang menerbitkan rasa bahagia  dan berbunga-bunga

Bagai lagu sedih untuk mereka yang hatinya hancur tertikam sembilu

Bagai lagu berisi pujian-pujian yang dilantunkan dengan penuh harap

Senada dengan goresan penaku yang berbisik lirih pada selembar kertas putih

Orkestra rintik hujan memecah keheningan malam

Meredam kebisingan dalam pikiran

Mengurai kekalutan dalam jiwa

Sungguh damai dan menenangkan

Yogyakarta, 19 Maret 2019-21.36

*) diambil dari catatan bersampul hitam

Pada Lembaran Kertas

sumber : pixabay.com

Ada kalanya aku terdiam untuk sekadar meresapi makna kehidupan yang terus melaju melintasi segala zaman. Kalau kau tengok ke belakang, kau akan temukan memori tentang kenangan masa silam. Pada lembaran kertas inilah kurangkai rindu yang pilu maupun menggebu. Tak lupa juga kuselipkan pelajaran-pelajaran yang kudapatkan dari setiap kisah. Entah itu kisah manis atau bukan. Biarlah menjadi catatan.

Ada kalanya aku berhenti sejenak sekadar untuk memperlambat laju waktu agar aku tak kehilangan momentum. Manusia-manusia begitu tenggelam dalam kecepatan dan kesibukan hingga tak sadar banyak yang telah terlewatkan. Pada lembaran kertas inilah ingin kulukiskan keindahan-keindahan hidup yang sering terlupakan. Entah karena indera yang tak mampu menangkap atau hati yang tak mampu merasa. Biarlah menjadi penyemangat.

Ada kalanya aku harus istirahat dari hiruk-pikuk dan hingar-bingar dunia agar aku tak hanyut terbawa arus. Aku takut akan terlena pada dunia yang fana. Aku takut akan kehilangan arah dan tujuan. Pada lembaran kertas inilah kuungkapkan kekhawatiran sekaligus harapan dan impian masa muda. Biarlah menjadi pengingat.

Yogyakarta, 16 Maret 2019-11.49

*) diambil dari catatan bersampul hitam

Sajak Tentang Kata-Kata

Mereka tak sendiri

Berkumpul beramai-ramai

Mereka tak terjamah

Tak mampu kugenggam

Tapi mereka ada

Mereka hidup

Mereka bergerak

Mereka berontak

Menuntut dibebaskan dari dalam pikiran

Mendesakku merangkai kata hingga tercipta rentetan kalimat yang terjalin indah

Memaksaku bermain-main dengan kosakata, diksi bahkan gaya bahasa

Menguras seluruh isi pikiran dan hati lewat goresan pena

Tuntaskan segala cinta

Lewat kata-kata manis nan puitis

Tuntaskan segala asa

Lewat kata-kata membahana nan menggelora

Tuntaskan segala rindu

Lewat kata-kata sendu nan mendayu-dayu

Tuntaskan segala luka

Lewat kata-kata pilu menusuk kalbu

Pikiranku bukanlah kamus dengan ribuan bahkan jutaan kosakata

Bukan pula buku kumpulan peribahasa

Aku pun bukanlah seorang pujangga

Hanyalah seseorang yang ingin berbagi rasa

Jadi, maafkan aku jika sajak ini tak sempurna

Yogyakarta, 5 Maret 2019-22.09

*) diambil dari buku catatan bersampul hitam

The Reason Why I Write

Just a little girl who caught up in her dreams

I’m nobody in this big world

A little girl who loves to daydream

Contemplate about life, natures, religions, societies

About many things

Till my brain is full of quetions

Sometimes when ideas and quetions are too much, my mind hurts easily

I’m a good dreamer

I’m a good observer

I’m a good thinker

But, I’m not good writer

Just a simple girl who loves to write about what she thinks or feels

Because, writing is the best medicine for curing my sadness,anger,fear and frustration

The best way to appreciate and remember every beautiful moment in my life

Yogyakarta, March 7th, 2019-10.40 a.m.

*) taken from a black notes