Hujan dan Rasa yang Terkikis

sumber : http://www.news.okezone.com

Sore ini, di penghujung bulan April, kupandangi jalanan dan daun-daun basah yang dijatuhi titik-titik air dari langit kelabu. Setelah sejak kemarin kotaku disirami panas dan teriknya matahari, terutama saat tengah hari.

Bisa kurasakan tetes-tetes air dan aromanya yang mendamaikan hati. Sejenak mampu meredam gemuruh perang batin yang aku tidak tahu kapan akan selesai.

Tapi, apakah kau tahu? Hujan selalu jadi pengingat terbaik akan hari-hari yang pernah kulalui bersamamu. Hujan seringkali memaksaku untuk membangkitkan lagi memori-memori tentangmu walau berulangkali kukatakan aku tidak mau.

Kau telah memilih jalanmu sendiri

Dan aku memilih untuk pergi

Kau jalani hidupmu

Dan aku akan jalani hidupku

Jangan marah, jangan salahkan aku

Kau sendiri yang menjebakku dalam rumitnya permainanmu hingga aku jadi ragu

Jangan marah, jangan salahkan aku

Jika akhirnya aku bersikeras untuk menghapus namamu dari ingatanku dan mengikis rasa yang dulu pernah ada untukmu

Yogyakarta, 29 April 2019-17.25

Orang Tersekolahkan vs Orang Terdidik

sumber :www.eagleeyrie.org

Mungkin kalian pernah mengetahui atau mengenal ada orang yang tidak mengenyam pendidikan tinggi (entah hanya lulusan SD,SMP atau bahkan tidak pernah mengecap bangku sekolah sama sekali) tapi pintar dan bisa sukses–bahkan lebih pintar dan sukses dari yang tamatan universitas. Sementara ada orang-orang yang lulusan perguruan tinggi,bahkan perguruan tinggi ternama sekalipun, tapi pola pikir dan perilakunya jauh dari cerminan orang terdidik. Melihat hal ini, saya kadang berpikir, “apakah benar semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka ia semakin pintar? semakin sukses? semakin terdidik?” Belum lagi, biaya kuliah di Indonesia mahal. Butuh waktu kurang lebih 4 tahun untuk bisa meraih gelar sarjana. Capek dan buang-buang uang. Coba kalau waktu 4 tahun digunakan untuk bekerja saja,misalnya,lumayan juga uang yang terkumpul bisa untuk beli ini itu. Pakai uang sendiri lagi. Coba kalau waktu 4 tahun digunakan untuk bisnis saja,misalnya,mungkin bisnisnya sudah berkembang dengan omset sekian. Seperti itulah kira-kira yang ada di pikiran saya dan mungkin juga kalian. Kalau sudah begini, biasanya akan muncul pertanyaan, sekolah itu penting nggak sih? Terus apa bedanya orang yang tersekolahkan dengan orang terdidik?

Sebagian besar masyarakat Indonesia masih belum paham definisi dari orang terdidik dan tersekolahkan. Kebanyakan menganggap bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, semakin banyak gelar akademis yang disandang seseorang berarti ia akan dianggap semakin terdidik. Benarkah demikian? Menurut saya anggapan itu bisa benar bisa salah, tergantung proses yang dijalankan seseorang dalam menuntut ilmu dan bagaimana ia memahami, meresapi serta mengamalkan ilmu yang diperoleh.

Orang yang sekolah tinggi namun tidak terdidik dengan baik, kemungkinan adalah orang yang tidak bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Mungkin ia sering bohong ke orangtua–pamitnya mau sekolah/kuliah, tapi ternyata malah keluyuran. Padahal orangtua sudah susah-payah cari uang untuk membiayai sekolah/kuliahnya. Mungkin dulu waktu sekolah/kuliah terbiasa copy paste tugas oranglain, mencontek saat ujian atau beli skripsi. Jadi jangan heran ketika ia sudah lulus kelak, ia akan jadi orang yang menghalalkan segala cara demi kesuksesan, kekayaan, kekuasaan dan hal-hal material lainnya. Karena ketika sekolah/kuliah dulu memang sudah terbiasa tidak jujur.

Ada juga orang yang semasa sekolah/kuliah dulu adalah orang yang baik,jujur,idealis. Namun setelah lulus entah kenapa ia seolah jadi orang yang lupa pada apa yang pernah dipelajarinya dulu. Idealismenya menguap. Kecerdasannya bukan membuatnya semakin bijaksana dalam menyikapi permasalahan, malah ia ikut-ikutan jadi sumber masalah. Ilmu yang diperolehnya bukan digunakan untuk kebaikan bersama, malah digunakan untuk memuaskan kepentingan pribadi dengan membodoh-bodohi orang lain. Entah setan apa yang merasuki orang-orang berilmu ini sehingga jadi keblinger begini.

Sebaliknya, orang-orang yang tidak tersekolahkan bisa saja menjadi orang yang terdidik asalkan ia punya niat dan semangat belajar yang tinggi. Menteri Kelautan dan Perikanan Indonesia, Susi Pudjiastuti, memang hanya lulusan SMP. Namun itu tidak membuatnya berhenti belajar. Beliau tetap menambah pengetahuannya dengan banyak membaca buku dan belajar dari manapun. Oleh karena itu, beliau bisa menjadi pebisnis sukses dan kemudian didapuk menjadi salah satu menteri di kabinet Presiden Joko Widodo. Bahkan baru-baru ini, Menteri Susi masuk dalam daftar bergengsi Global Thinkers 2019. Menteri Susi masuk dalam daftar 10 besar tokoh berpengaruh di bidang pertahanan dan keamanan versi majalah Foreign Policy.

sumber : http://www.idntimes.com

R.A.Kartini, yang hari kelahirannya belum lama ini kita peringati, juga termasuk yang tidak sempat mengecap pendidikan tinggi. Namun kegemarannya membaca dan berkorespondensi dengan teman-temannya di Belanda (sebut saja Stella Zeehandelar,Ms Ovink Soer, Ms Van Koln) telah membuatnya menjadi orang yang berwawasan luas dan terbuka. Pemikiran-pemikiran hebatnya mengenai pendidikan bagi kaum wanita,kesetaraan dan kemerdekaan bangsanya telah menempatkannya sebagai pahlawan emansipasi yang jasanya terus terkenang hingga kini.

sumber : http://www.infomenarik-terbaru.com

Belajar bisa dilakukan dimana saja, dari siapa dan apa saja. Belajar tidak terbatas hanya di dalam kelas. Belajar itu dimulai dari sejak masih dalam buaian hingga nanti ajal menjemput. Selama tubuh masih sehat, pikiran masih waras, nyawa masih melekat pada raga, kewajiban belajar akan tetap ada. Dunia dan alam semesta ini merupakan tempat belajar bagi siapapun yang mau mencari dan memahami hikmah dari segala peristiwa atau permasalahan yang terjadi. Tuhan akan memberkati dan mengangkat derajat orang-orang yang menuntut ilmu.

Bagi kalian yang beruntung bisa mengenyam pendidikan tinggi, bersyukurlah. Banyak orang di luar sana yang berharap ada di posisi kalian. Jalani prosesnya dengan baik dan benar. Jangan sia-siakan kerja keras dan pengorbanan orangtua yang susah payah membiayai sekolah/kuliah kalian. Jangan pernah merasa puas dengan apa yang kalian pelajari di dalam kelas. Carilah pengetahuan-pengetahuan lainnya di luar kelas, entah dari buku-buku, organisasi kemahasiswaan, kepanitiaan, forum-forum diskusi bahkan dari keluarga maupun masyarakat sekitar. Temukan hikmah dan pelajaran apa yang bisa diambil,lalu amalkan. Dengan begitu kalian akan menjadi orang yang tersekolahkan sekaligus terdidik.

Bagi kalian yang tidak punya kesempatan sekolah tinggi, tak perlu merasa inferior. Ilmu pengetahuan tidak hanya diperuntukkan bagi mereka yang sekolah. Kalian juga punya hak yang sama dalam memperoleh pengetahuan. Selama niat dan semangat belajar masih ada, kalian akan sanggup mengatasi halangan dan keterbatasan apapun. Dengan begitu kalian juga tidak kalah dari mereka yang tersekolahkan.

I’ll Be Alright

source : wallpaperswide.com

You always ask me how I feel

Repeating again from time to time

Till I lost to count how many times I hear it from you

Do you really care about me?

Or just want to mess up with my feeling?

My answer is still the same

Showing off my huge smile

Laughing out as if I’m the happiest person in the world

***

I don’t need your encouraging words

Keep it to yourself

All you wanna do is judge me

Torturing me with your death glare and sweet smile

My sadness didn’t mean anything to you

I don’t need your love

Everything you show me is fake

Our relationship is just like a game to you

I don’t want to waste my time

I’ll let you go, so you can be with someone who’s better than me

***

You don’t have to worry about me

Even though you’re not here anymore, I’ll be alright

You don’t have to be sorry

Even though my life is getting harder, I’ll be alright

Yogyakarta, February 25th,2019-10.12 a.m.

Tuhan, Masih Adakah Perdamaian?

Pernahkah kau perhatikan warna pelangi di langit setelah hujan? Ada warna merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu

Pernahkah kau perhatikan rupamu sendiri, rupa ayah-ibumu, rupa kakak-adikmu, rupa kawan-kawanmu, rupa kekasihmu atau rupa tetangga kanan-kirimu? Aku yakin tak ada yang benar-benar mirip seratus persen. Kecuali kau punya kembaran. Itu lain cerita.

Dari hal sesederhana itu pun harusnya kau tahu bahwa perbedaan adalah keniscayaan. Harusnya kau sudah terbiasa. Lalu mengapa sekarang kau malah sibuk meributkannya? Bahkan tanpa segan kau teriakan kebencian dan permusuhan. Kau hancurkan perbedaan, kau robek perdamaian.

Katamu ini untuk membela Tuhan. Padahal Dia mampu berdiri sendiri tanpa bantuan maupun pembelaan. Dan bukankah Tuhan telah berfirman pada kita untuk mengasihi sesama? Aku yakin Tuhan tak akan senang jika hamba-hamba-Nya banyak menumpahkan darah.

Katamu ini untuk membahagiakan Tuhan. Mungkinkah Tuhan akan bahagia melihat hamba-hamba-Nya abai pada nilai-nilai kemanusiaan? Mungkinkah Tuhan akan mengizinkan kita berbuat intoleran, hanya karena kita dari golongan mayoritas? Tak bisakah kita tetap toleran tanpa perlu menggadaikan keimanan?

Tuhan, ampunilah kami, hamba-hamba-Mu yang terlalu lama membiarkan diri tersesat dalam kegelapan

Ampunilah kami yang terlalu lama membiarkan hati kami digerogoti kebencian sehingga mengikis rasa kemanusiaan

Tuhan, masih adakah perdamaian?

Yogyakarta, 24 April 2019-20.14

I Hate Being An Adult

sumber : essaynparagraph.com

Whenever my days went by slowly, I prayed for going fast

But, how I feel now is the opposite

I wish this moment would stop for a while

Time, don’t stay here, go somewhere else

***

Manusia memang makhluk Tuhan yang sangat kompleks dan membingungkan. Kalau tak ingin disebut menyebalkan. Dikasih ini minta itu, dikasih itu minta ini. Ketika aku kecil dulu, aku sering meminta pada Tuhan agar waktu berjalan lebih cepat sehingga aku bisa segera tumbuh dewasa. Dengan polosnya aku sering meniru-nirukan gerak-gerik orang dewasa, sok dewasa lebih tepatnya. Kupikir aku tampak lucu dan menggemaskan saat melakukannya. Kini, ketika apa yang kuharapkan terjadi, aku malah ingin lari. Aku (agak) menyesal pernah meminta hal itu pada Tuhan saat masih kecil.

***

But, before I started to dream, I expected this moment

I want to pause

I’m not prepared yet

Over there it’s waiting for me

My 20’s is waiting for me

***

Seharusnya dulu kutulis saja surat untuk Tuhan lalu kuterbangkan dengan balon udara agar Dia tak cepat-cepat mengambil masa kanak-kanakku. Aku ingat ketika mendapat menstruasi pertamaku. Aku menangis mengadu pada ibuku. Ditatapnya aku dan ibu berkata, “Anakku sudah besar sekarang.” Aku terkejut dan ada perasaan aneh dalam hatiku. Kemudian aku masuk ke kamar dan berdiri di depan cermin besar sambil terus mengamati diriku. Mungkin ibu benar. Beberapa bagian tubuhku tampak ada yang berubah. Tapi pikiran dan hatiku bersikeras mengatakan bahwa aku masih anak-anak. Apakah aku tidak siap? Mungkin iya, Tapi, bukankah hidup tak pernah menunggu kita benar-benar siap?

***

If I just count three now

I wish everything would disappear like a dream

And only I would go back to then

***

Usia 20-an tahun membuatku mengalami pergolakan-pergolakan pemikiran dan batin. Kadang menakutkan, tapi juga membuat penasaran. Ada lebih banyak harapan yang ingin diwujudkan. Saat inilah kusadari bahwa kita tak bisa memandang hidup hanya dengan kacamata hitam-putih. Aku tak menyangka bahwa dunia orang dewasa ternyata serumit ini. Coba bayangkan, jika ada dua atau lebih orang dewasa sedang bertengkar. Pertengkaran mereka tidak hanya berlangsung 1 jam atau 2 jam, 1 hari atau 2 hari, tapi bisa berminggu-minggu, berbulan-bulan, bertahun-tahun bahkan seumur hidup. Apakah hati orang dewasa memang penuh dengan kebencian? Padahal dulu orangtua dan guru-guruku selalu mengajarkan untuk saling memaafkan. Inilah yang kadang membuatku kecewa pada orang dewasa. Inilah yang kadang membuatku benci jadi orang dewasa.

***

Back, back, back, back, back, back

To further back

To the time when I was whining

Whining, whining, whining, whining, whining everything

***

Saat aku merasa kecewa dan marah dengan dunia orang dewasa yang sarat kepentingan dan kepura-puraan, aku selalu ingin kembali ke masa kanak-kanakku. Masa saat segala sesuatunya begitu sederhana dan apa adanya. Saat dimana kalau aku bertengkar dengan teman-teman maka tak lama kemudian kami sudah baikan. Aku ingin kembali kesana sebentar saja, sekadar untuk berteduh sejenak di bawah kepolosan dan kemurnian dunia anak-anak

Yogyakarta, 23 April 2019-10.08

*) Catatan : tulisan ini terinspirasi dari lagu K-pop berjudul “19” oleh Stray Kids. Saya kutip beberapa liriknya (lirik dalam translasi bahasa Inggris) untuk dijabarkan menjadi sebuah tulisan.

Puisi-Terimakasih, Kartini

sumber : http://www.infomenarik-terbaru.com

Hari ini lebih dari seabad lalu engkau lahir ke muka bumi

Saat itu mungkin kau bukanlah siapa-siapa

Aku yakin saat itu tak ada yang menyangka bahwa kelak namamu dan sosokmu akan selalu abadi dalam ingatan kami anak-anak negeri

Meninggalkan jejak-jejak perjuangan dan pemikiran yang akan selalu dikenang sepanjang zaman

Aku memang tak pernah bertatap muka denganmu

Aku hanya mengenalmu dari buku-buku pelajaran sekolah dan cerita guru-guru

Dan kau tahu, kini aku justru merasa dungu

Karena ternyata aku tak benar-benar mengenalmu

Mungkin karena aku yang selalu merasa diri paling tahu

Atau karena pelajaran sejarah di sekolah-sekolah yang terlalu terbatas dalam mengenalkan peranmu

Dengan berani kau runtuhkan tembok-tembok tradisi yang terlalu menghalangi

Dan kini kumulai sedikit mengerti bahwa kau tak hanya sekadar pahlawan emansipasi

Jasadmu kini tiada lagi

Rohmu telah kembali pada Ilahi

Namun semangatmu, pemikiranmu, perjuanganmu akan selalu abadi dalam sanubari

Dari lubuk hati, ingin kuucapkan, “Terimakasih, Kartini

*) Selamat Hari Kartini bagi kalian semua. Semoga Kartini-Kartini baru tetap hadir di negeri ini.

Yogyakarta, 21 April 2019-21.50

Pandangan Miring Terhadap Kaum Introvert dan Kebenarannya

sumber : theodysseyonline.com

Dalam psikologi, dikenal pengelompokkan kepribadian manusia berdasarkan bagaimana cara seseorang mendapatkan energinya, yaitu introvert dan ekstrovert. Orang dengan kepribadian introvert mendapatkan energinya dari dalam diri sendiri. Sementara orang dengan kepribadian ekstrovert mendapatkan energinya dari luar dirinya. Oleh karena itu, orang-orang introvert lebih menyukai suasana tenang, sepi dan bahkan cenderung suka menyendiri. Hal ini berbeda dengan orang-orang ekstrovert yang lebih menyukai berada di keramaian atau bersama banyak orang.

Selama ini orang-orang introvert memang sering disalahpahami sebagai orang yang dingin, pemalu, pendiam, tidak pandai bergaul, tidak pandai berkomunikasi bahkan sering dianggap aneh atau tidak lazim. Banyak yang menganggap bahwa orang-orang introvert membosankan, nggak gaul, cupu. Sebenarnya anggapan itu tidak sepenuhnya benar. Orang-orang intovert memang terlihat dingin dan cuek pada orang asing atau orang yang baru pertama bertemu, namun mereka sebenarnya adalah teman yang peka, perhatian, pandai membuat orang lain merasa nyaman dan pendengar yang baik. Oleh karena itu, mereka biasanya sering dijadikan tempat curhat dan meminta saran oleh teman-temannya. Mereka juga teman yang tulus karena sejatinya orang-orang introvert mampu menghargai arti teman dan persahabatan. Beruntunglah kalian yang punya teman introvert. Orang-orang intovert mungkin terlihat pendiam dan pemalu, namun mereka belum tentu begitu jika sedang berkumpul dengan teman-teman dekatnya atau orang-orang yang membuatnya nyaman. Mereka bisa jadi banyak bicara dan berubah jadi orang gila. Seolah-olah mereka adalah orang yang berbeda ketika bersama dengan orang-orang terdekatnya dengan ketika mereka bersama orang asing atau berada di lingkungan baru. Orang-orang intovert mungkin terlihat tidak pandai bergaul hanya karena mereka lebih sering memilih untuk menyendiri. Mereka bukannya tidak pandai bergaul atau tidak mau bergaul sama sekali dengan orang lain. Mereka hanyalah orang-orang yang selektif dalam pergaulan. Percaya atau tidak, orang introvert biasanya mampu merasakan apakah seseorang benar-benar tulus berbuat baik padanya atau berbuat baik karena ada maunya. Ketika mereka merasa seseorang tidak tulus atau membuatnya merasa tidak nyaman, orang introvert akan menjaga jarak dengan orang seperti itu. Orang-orang introvert mungkin terlihat tidak pandai berkomunikasi hanya karena mereka lebih banyak diam dan mendengarkan dalam sebuah percakapan. Memang seorang introvert sering merasa kesulitan dalam mengungkapkan pikiran dan perasaannya secara lisan, namun mereka umumnya hebat dalam menulis. Sebenarnya mereka bukan tidak pandai berkomunikasi. Orang-orang introvert punya kecenderungan berpikir dulu sebelum bicara atau bertindak. Dan pikiran seorang introvert tidak sesederhana yang dibayangkan. Pikiran mereka sangat kompleks bahkan untuk hal-hal yang kelihatannya sepele. Mereka menganalisis sesuatu secara mendalam dari berbagai sisi. Mereka juga orang yang penuh pertimbangan dengan memikirkan dampak dari perkataan atau tindakan mereka (apakah hal ini pantas dikatakan/dilakukan atau tidak? apakah akan menyakiti orang lain atau tidak? dll). Inilah yang menyebabkan mereka terlihat pasif dan tidak mudah untuk mengungkapkan sesuatu secara lisan.

sumber : rebloggy.com

Kalau kita bicara mengenai orang sukses dan berpengaruh, orang cenderung beranggapan bahwa orang-orang ekstrovert akan lebih sukses karena pribadi mereka yang ramah, mudah bergaul, aktif dan energik. Sebenarnya banyak juga tokoh-tokoh dunia terkenal yang ternyata seorang introvert. JK Rowling, Mahatma Gandhi, Bill Gates, Albert Einstein, Isaac Newton, Warren Buffet bahkan salah satu bapak pendiri bangsa kita, Bung Hatta, adalah orang-orang introvert. Dan saya yakin pasti masih banyak lagi tokoh-tokoh besar lainnya yang tidak saya ketahui. Sebagaimana kita ketahui, mereka adalah orang-orang yang memiliki ide, penemuan, karya yang bermanfaat bagi kehidupan umat manusia. Jadi tidak benar kalau orang-orang introvert tidak dapat berprestasi layaknya orang-orang ekstrovert.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan menjadi ekstrovert atau introvert. Orang introvert bukanlah orang yang menderita gangguan psikologis. Mereka sama normalnya dengan orang ekstrovert. Dua-duanya sama-sama baik, tak ada yang lebih superior atau inferior. Dua-duanya ada untuk saling melengkapi, saling bekerjasama dan hidup berdampingan satu sama lain. Kita hanya perlu belajar saling memahami dan tidak memaksa orang lain agar menjadi seperti yang kita inginkan.

Mari Kita Rayakan Kesunyian

sumber : DeMilked

Sebagian besar orang mungkin tak paham akan seni menikmati sunyi. Entah karena tak terbiasa atau tak pernah belajar memahami. Bagimu, kesunyian tak ubahnya racun mematikan, namun bagiku, kesunyian adalah saat terbaik untuk merayakan kebebasan.

Dalam kesunyian kurasakan kenikmatan kontemplasi. Saat segala hiruk-pikuk duniawi ditelan gelapnya malam dan dilebur rinai hujan. Aku selalu suka saat-saat seperti itu. Bahkan kadang dengan tega aku berdoa agar hujan makin deras. Bukan untuk menggagalkan orang pacaran di malam minggu. Aku hanya sedang malas mendengarkan keramaian yang selalu sama dan berulang-ulang. Terdengar egois? Aku memang butuh egois sekali-sekali.

Kau boleh saja benci pada sunyi. Namun sunyi telah membuatku mampu mendengar suara-suara yang seringkali terabaikan di tengah keramaian. Bahkan suara-suara dalam kepalaku terdengar berkali-kali lipat lebih nyaring dari biasanya.

Saat kau memaki sunyi, saat itu pulalah aku mendengar tawa berderai-derai, bergaung di langit-langit. Tak lama kemudian kudengar suara, “Mari kita rayakan kesunyian.”

A Girl Who Fights Against The Darkness

source : facebook.com

I keep my eyes open widely

Walking through the unknown and mysterious path

I can’t see anything clearly

Are my eyes really blind?

Or is there no light here?

I don’t know why I am afraid of the darkness

My childhood memories come to my mind

Like the arrows released from its bow

I could hear your despair voice even the people around me were so loud

I could see fear lies in your eyes even in the dark

I could feel your disappointment and dissatisfaction of yourself

Feels like you are useless

Feels like you never move to another place

Just stay at your place now

The darkness that trapped me in, slowly began to loosen my strength

What should I do?

I don’t want to stop here

I don’t want to lose everything

This is not the end of my journey

As long as I am still alive, I will keep fighting against the darkness

Ironi Pendidikan di Indonesia

sumber : ZonaSultra.com

Aku tak tahu mengapa sekarang marak sesama teman, junior-senior bahkan guru-murid saling membully? Seingatku dulu kalau memang ada tidak sesering sekarang. Tak sampai menghilangkan nyawa.

Aku tak tahu mengapa mulai banyak murid memusuhi gurunya? Seingatku dulu kami masih menaruh rasa hormat pada mereka, senakal dan sebegundal apapun kami.

Ada pula orangtua yang tak terima kalau anaknya dimarahi dan diberi sanksi. Padahal jelas itu kesalahan si anak sendiri. Seingatku dulu kalau hal ini kulaporkan pada orangtuaku, justru aku akan makin dimarahi.

Katanya pendidikan bertujuan untuk memanusiakan manusia. Tapi mengapa yang kulihat sekarang tak lebih dari manusia-manusia pekerja yang mulai lupa akan fungsi sosialnya sebagai manusia? Mungkinkah mereka adalah mesin-mesin rakitan sebuah pabrik bernama sekolah?

Katanya sekolah adalah tempat berkumpulnya cendekiawan, lengkap dengan segala aktivitas keilmuannya. Tapi mengapa yang kulihat hanya manusia-manusia yang berlomba mencari selembar ijazah agar bisa diterima di dunia kerja? Mungkinkah sekarang sekolah telah berubah fungsi demi memenuhi kepentingan industri?

Orangtua dulu sering berkata “sekolahlah agar kelak kau jadi pintar”. Menurutku itu tak sepenuhnya benar tapi juga tak sepenuhnya salah. Pintar seperti apa dulu yang dimaksud? Karena banyak orang pintar zaman sekarang yang justru membuat orang lain jadi lebih bodoh. Banyak orang pintar zaman sekarang yang mengambil hak orang lain dengan menghalalkan segala cara. Kalau sekolah hanya menjadikanmu manusia-manusia jenis itu, sebaiknya kau tak usah sekolah saja.

Kumohon kembalikan pendidikan kami sebagaimana tujuannya semula

Kumohon kembalikan sekolah kami menjadi tempat yang menyenangkan, dimana kami bisa bermain dan belajar

Yogyakarta, 16 April 2019-05.17