Where Are You Going To Return Your Words?

source : chip.co.id

Where are you going to return your words?

the word has been written;

posted;

read;

shared;

without knowing the truth;

without fact checking;

spread out everywhere like a virus;

never disappear even though you deleted it

***

Where are you going to return your words?

the word has been spoken;

whispered;

screamed;

without knowing the truth;

without fact checking;

there’s always the one who has been hurt;

there’s always the one who believed it and said ‘amen’

***

The words tear the peace apart

brainwashing;

creating a chaos;

creating a war;

are you proud of what you did?

On the trip to Semarang, May 30th, 2019

Apa Motivasimu Menulis?

Expressive writing is one medium through which people process their toughts and feelings following stressful or traumatic events but the rate of emotional well-being and recovery depends on one’s culture.
source : ptsdperspective.org

Coba jawab pertanyaan saya pada judul di atas. Kira-kira kenapa kalian mau menulis? Ingin dikenal orang? Ingin dapat tambahan uang? Atau memang kalian berniat jadi penulis suatu saat nanti? Apapun motivasi kalian itu sah-sah saja. Nggak ada yang salah. Motivasi setiap orang dalam menulis memang berbeda-beda. Yang jelas menulis memang suatu aktivitas yang menyenangkan dan menyehatkan.

Menulis Untuk Berbagi

“Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.” (Pramoedya Ananta Toer)

Salah satu quote dari penulis legendaris Indonesia, Pramoedya Ananta Toer inilah yang menjadi motivasi saya menulis. “Menulis adalah bekerja untuk keabadian”. Jadi, dengan menulis manusia akan tetap abadi. Bukan abadi dalam artian secara fisik, tapi pemikiran dan ide-ide kita tentang berbagai hal akan selalu dikenang oleh orang lain. Pramoedya Ananta Toer memang sudah tiada secara fisik tapi karya-karyanya masih dibaca dan terus dibicarakan orang hingga detik ini bukan?

Di era digital seperti sekarang ini, media untuk menulis banyak sekali. Menulis di media online, seperti blog, sosial media, wattpad dll bisa menjadi sarana yang kita pilih untuk mengekspresikan pemikiran kalian. Tapi tetap perhatikan etika saat menulis sesuatu ya dan tulislah hal-hal yang baik dan bermanfaat. Jejak digital itu sulit dihilangkan walaupun postingannya sudah dihapus. Kalian nggak mau kan, ketika udah meninggal, orang-orang justru mengenang kalian sebagai tukang nyinyir di sosmed? Atau mengenang kalian sebagai seseorang yang suka bawa-bawa isu SARA dan menebar kebencian lewat tulisan yang diposting? Lagipula apa yang pernah kalian tulis ketika masih hidup juga besok di akhirat bakal dimintai pertanggungjawaban sama Tuhan.

Menulis itu pada dasarnya adalah berbagi. Berbagi informasi, pengetahuan, tips, nasihat, motivasi, inspirasi, hiburan dll yang mungkin dibutuhkan dan bisa bermanfaat atau menghibur orang yang membaca. Jadi, ketika saya menulis sesuatu kemudian diposting, saya berharap ada manfaat atau nilai-nilai kebaikan yang bisa diambil oleh pembaca (atau minimal saya sendiri). Tulisan saya memang masih banyak sekali kekurangan dalam berbagai hal, tapi saya tidak akan berhenti belajar. Jujur, masalah jumlah pembaca, like, komentar tidak pernah saya pikirkan. Karena kalau itu jadi fokus utama saya, saya bisa stress ketika jumlah pembaca, like dan komentar yang didapat tidak memenuhi ekspektasi. Ketika tidak memenuhi ekspektasi bisa jadi suatu saat malah membuat saya kehilangan semangat menulis. Makanya saya niatkan menulis bukan untuk itu semua. Bukan juga demi popularitas atau materi. Tapi untuk terus belajar, berbagi hal-hal baik dan bermanfaat. Masalah popularitas atau materi menurut saya hanya bonus dari apa yang saya lakukan.

Saya juga sebenarnya tidak tahu dengan memilih jalan ini akan membawa saya kemana. Tapi saya tetap yakin bahwa suatu saat pasti ada manfaat dan hikmah yang bisa diambil dari kegiatan menulis ini. Kalau tidak sekarang ya besok. Kalau tidak besok ya besoknya lagi. Entah kapan itu akan tiba. Bukankah kesuksesan itu tidak ada yang instan? Jalan untuk mencapai sukses itu tidak ada yang mudah, tidak ada yang mulus-mulus saja. Ada hambatan, ada keterbatasan, ada penolakan, ada cibiran dll. Yang penting adalah seberapa kuat kita menghadapi itu semua.

Menulis Sebagai Sarana Membebaskan Diri

Hal ini pernah saya tulis juga secara khusus dalam postingan lawas saya yang lain. Tapi saya merasa perlu menegaskan lagi disini secara lebih singkat.

Menulis membuat saya merasa bebas dari perasaan stress dan emosi-emosi negatif lainnya. Beban pikiran pun juga rasanya berkurang sehingga jadi lebih lega ketika saya menulis. Ketika saya habis membaca, melihat, mendengar, berdiskusi atau memikirkan sesuatu, otomatis akan ada hal-hal yang masuk ke pikiran saya. Kalau apa yang terlintas di pikiran saya tidak saya tuangkan dalam tulisan atau minimal dicatat dulu di buku catatan, kepala saya rasanya penuh sesak. Rasanya seperti tidak tenang. Memang, kadang saya butuh jeda atau istirahat selama beberapa hari untuk tidak menulis ketika saya merasa capek atau jenuh. Tapi kalau hal itu terjadi dalam jangka waktu yang terlalu lama, akhirnya saya bisa stress juga dan merasa ada yang kurang. Kenapa stress? Ya karena terlalu banyak yang mengendap di pikiran dan hati sehingga harus ada yang dikeluarkan supaya tidak membusuk di dalam.

Menulis Sebagai Sarana Belajar dan Refleksi Diri

Yang ketiga dan Insya Allah yang terakhir saya jabarkan dari motivasi saya menulis adalah ini. Sebagai sarana belajar, yaitu dengan membiasakan diri menulis otomatis saya harus banyak membaca, banyak melihat, banyak mendengar karena kalau tidak, saya tidak akan punya bahan apapun untuk ditulis. Mau tidak mau saya dituntut untuk belajar terus-menerus (continuous learning) dari apapun dan siapapun. Proses belajar ini pun tidak hanya berguna dalam tulis-menulis saja tapi juga dalam kehidupan sehari-hari saya. Saya ingin jadi pribadi yang mencintai proses belajar (love to learn) dan menjadi long life learner, baik dalam menulis maupun kehidupan sehari-hari.

Sebagai sarana refleksi diri, menulis juga membuat saya banyak berpikir dan merenung tentang apa yang pernah terjadi dalam hidup saya, bagaimana menyikapinya, efeknya di masa sekarang dan apa yang bisa saya pelajari dari hal tersebut. Biasanya merenung akan banyak memberi saya inspirasi dalam menulis puisi atau prosa. Kalau kalian berkenan bongkar-bongkar puisi saya di blog ini, sebagian besar terinspirasi dari pengalaman pribadi dan hasil perenungan saya.

Anyway, cukup sampai sini saja postingan saya. Saya merasa postingan hari ini agak lebih panjang dari biasanya (kayaknya sih hehe). Semoga bermanfaat. I’ll be back next time.

I’ll End You With 7 Verses of Poem

a tree with a poem carved on it
source : pexels.com

(1)

Love, Hope, Hapiness

Let me keep the sun shines on my path

(2)

Power, Desire, Challenges, Efforts

Let me keep the fire flare up in my heart

(3)

Peace, Calm, Relax

Let me keep coolness in my head

(4)

Wisdom, Knowledge, Thought, Feeling

Let me control the balance

(5)

Hopeless, Fears, Hurts, Depression

Get rid of from my dictionary

(6)

Haters, Toxic People, Fake Friends

Don’t let them get in my kingdom

My life is a gift

My time is a treasure

And the queen doesn’t have much time to deal with those damn people

(7)

Don’t play with me

Or I’ll show you how to play the game

Watch out your words

Or I’ll end you with 7 verses of poem

Yogyakarta, May 27th, 2019-08.54 a.m.

*) just try to be a bit badass but still fail (I’m okay 😊 )

A Woman Who Keeps Fire In Her Heart

source : https://www.pexels.com/photo/burning-book-page-1474928/

I lost to count how many days since the rain continued to flush this city. Leaves, lands, roofs, roads were wet. Left any puddles everywhere. Falling and melting in the rivers, lakes and ocean. Till it left coldness that gripped my bones and joints tightly.

It’s the best time for people to take shelter under the roofs and curled up under the blanket. They’re in a hurry to close their eyes faster. Resting all of tired senses, mind and heart after being forged by the sun’s heat, trapped in the traffic jams and chased by the deadline. But, there’s a woman who sat in her corner’s room. Holding a pen, scratching something I didn’t know. I could see her death stare. Her facial expressions implied something I didn’t understand the meaning behind. Because it’s like fusion between disappointment, anger, despair and weakness. Maybe fate has betrayed her.

The air was so cold outside. But, not with her heart that kept the fire. The fire is getting bigger. If she could take it out, maybe the whole city would be burnt. I thought there’s someone or something that switched it on. Whether it caused by consciousness or not.

Maybe you’ll ask how to extinguish the fire.

“No, dear! You can’t!”

“The fire will never be extinguished.”

It’s not really disappear from her heart. It’s just getting smaller. Someday, the fire can flare up to burn everyone and everything in the right moment.

Yogyakarta, May 24th, 2019-10.59 a.m.

If The Time Turns Into A Ghost, Where Are You Going To Hide?

source : pixabay.com

In this life, we always race against the time. The time slowly erases our age number till its end. If it comes to us, we’ll only be people who carry out our stories.

We’re the true explorer who wander to taste bitter-sweetness of life, find wisdom and sometimes immerse ourselves into contemplation. The time shows us some unexpected places, brings us together with another names and creates a beautiful memories on our minds. But, the time slowly cut out of the distance between life and death without us knowing it.

The time is like a mystery. It can make us find the answers of questions then mislead us to another questions.

We are all walk in the time tunnel. Sometimes, we have to grope the walls in the dark to keep ourselves going and not falling. Sometimes, we have to leave memories trace on every path we have passed. Sometimes, we have to quit on the crossroad to think again which way should we choose for the next journey.

In this journey, there’re always people who are ready and not ready. The time doesn’t know the word ‘wait‘. If you’re not ready, it can be a ghost who will chase and stab you. And if the time turns into a ghost, where are you going to hide?

Yogyakarta, May 23rd, 2019-08.34 a.m.

*) P.S. : I don’t know whether I use the proper grammar or not

[Poems]-I Started My Morning With A Poem

source : https://pixabay.com/id/photos/matahari-lanskap-alam-cahaya-hutan-4178175/

The sun has risen

Smile brightly at the earth

Smile at me

I closed my yesterday at night

Hopefully I can open my eyes tomorrow

***

I opened my day with new hope

I opened a new page and ready to write my stories

Whether it’s good or bad

***

I started my morning with a poem

Listened to the nature voices

Sniffed to the smell of my mother’s delicious cook

Catched every beauty that God has created

I prayed that the sky was still blue

And the sun still smiled at my country for a long time

***

I started my morning with a poem

But, I lost my words to express how thankful I’m

So, I just say to Him, “thanks for waking me up this morning

Yogyakarta, May 22nd, 2019-09.43 a.m.

Hoax dan Pemahaman Keliru Tentang Membaca

sumber : news.detik.com

Membaca adalah aktivitas yang penting dan bermanfaat untuk dilakukan. Dengan membaca pengetahuan dan wawasan kita akan bertambah luas. Bahkan kebiasaan membaca bisa jadi tolak ukur kemajuan peradaban suatu bangsa.

Budaya literasi terus digaungkan oleh berbagai kalangan di negeri ini. Hal ini mengingat masih rendahnya tingkat literasi di Indonesia-dimana menurut PISA atau Programme for International Student Assessment , tingkat literasi membaca, matematika dan sains Indonesia masih berada pada peringkat 10 besar terbawah dari 72 negara yang disurvey dengan skor rata-rata 395. Kebiasaan bermain gadget termasuk salah satu penyebab rendahnya budaya literasi di Indonesia. Menurut data yang dirilis lembaga penelitian Nielsen menyebutkan bahwa rata-rata penduduk Indonesia menghabiskan waktu berselancar di dunia maya menggunakan komputer selama 4 jam 42 menit; dengan telepon genggam selama 3 jam 33 menit dan menghabiskan waktu bermain sosial media selama 2 jam 51 menit.

17 April 2019 lalu sebagaimana kita tahu, Indonesia telah melaksanakan pemilu terbesar dan tersulit di dunia, seperti itulah kira-kira yang disebut-sebut oleh media-media internasional. Selama pelaksanaan pesta demokrasi tersebut, entah dari masa kampanye, hari-H pencoblosan maupun sampai pasca pemilu, jagad sosial media dan media-media online digegerkan dengan sejumlah berita hoax berkaitan dengan pemilu 2019. Entah berapa rata-rata berita hoax yang tersebar di masyarakat Indonesia dalam sehari. Tapi bisa dibayangkan akibat dari maraknya peredaran berita hoax tersebut seperti apa. Berapa banyak orang yang akhirnya tercuci otaknya dan percaya begitu saja pada berita-berita yang tidak jelas sumbernya dari mana? Berapa banyak orang yang karena terlanjur mempercayai berita-berita tersebut jadi merasa resah dan takut? Berapa banyak orang yang akhirnya jadi ribut dan bertengkar hanya gara-gara berita-berita hoax yang kental dengan isu SARA di dalamnya? Hanya orang-orang bodohlah yang tega membodoh-bodohi orang lain yang tidak paham.

Memahami Kembali Makna Membaca

Jika kita melihat dalam konteks Agama Islam, kita akan dapati bahwa wahyu Allah Swt yang pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw adalah “iqra” yang artinya membaca atau bacalah. Membaca dalam hal ini tidak hanya pada sesuatu yang tekstual saja tapi juga yang kontekstual. Itu berarti kita diperintahkan untuk tidak hanya sekadar membaca tulisan atau teks yang tertulis saja namun harus diikuti dengan pemahaman mendalam terhadap latar belakang, tujuan bahkan sampai makna tersurat dan tersirat yang terkandung di dalamnya. Disinilah nalar dan kekritisan berpikir kita ditantang untuk berani ‘curiga’ dan mempertanyakan : apa maksud tersembunyi penulis menulis tulisan ini? apakah data dan informasi yang menjadi referensi si penulis valid? apakah tulisan ini dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya? dsb.

Makna yang lebih luas lagi dari kata “iqra” itu sendiri bisa berarti membaca keadaan, membaca manusia bahkan membaca alam semesta. Semua itu juga termasuk tanda-tanda kekuasaan Allah dan kita diperintahkan untuk memperhatikan dan banyak berpikir tentang hal tersebut. Pemahaman akan makna membaca inilah yang sering luput dari perhatian kita.

Hoax dan Kebiasaan Malas Membaca

Mengapa berita-berita hoax cepat sekali menyebar di sekitar kita? Salah satu sebabnya karena kita malas membaca. Jangankan membaca beritanya secara mendalam dan kontekstual, kadang-kadang isi beritanya malah tidak diperhatikan dan hanya membaca judulnya saja. Padahal kadang-kadang antara judul dengan isi berita tidak nyambung alias clickbait. Cuma judulnya saja yang dibuat bombastis.

Faktor lainnya yang menyebabkan berita hoax mudah menyebar adalah karena kita tidak melakukan tabayyun atau konfirmasi terhadap kebenaran berita tersebut. Rasulullah Saw sudah mengajarkan jika kita menerima berita atau informasi apalagi kalau yang menyampaikannya adalah orang-orang fasik maka harus dikonfirmasi terlebih dulu kebenarannya agar nanti tidak menimbulkan fitnah. Telaah dulu darimana sumbernya, apakah sumbernya kredibel atau tidak. Cek dulu data dan faktanya benar atau tidak. Bukan malah bersikap reaktif dan langsung ditelan mentah-mentah. Jadi mulai sekarang pahami dulu informasi yang diperoleh dan berhati-hatilah sebelum memencet tombol share.

[Poems]-Please, Open My 3rd Eye

source : pixabay.com

The world now is getting colder and darker

I’m afraid I can’t survive

I’m afraid I can’t escape from the threat and danger

I’m afraid I can’t see the truth, blinded by the untruth and confusion

My curiousity kills me inside 

Questioning my existence that not all people know how to answer

Please, open my 3rd eye so I can have a better vision

***

Do the people know what is right and wrong?

Is knowing the truth scary?

Please, don’t make me trapped in your biggest lie

The truth isn’t only yours

If you try to hide it,  I’ll find it my way

***

My eyes are too tired to open

Please, open my 3rd eye so I can see the world clearly

But, my heart is full of hatred

Makes it darker till the light completely blocked

My 3rd eye is closed tightly

Fears creep out into my heart, sway my soul then causing tremor to my body

Please, open my 3rd eye so I’ll know my true self better

Yogyakarta, March 1st, 2019-10.27 a.m.

*) taken from my old files

[Renungan] Sakit? Syukuri Aja!

ilustrasi : pixabay.com

Siapa diantara kalian yang seumur hidup nggak pernah sakit? Saya yakin pasti nggak ada. Mau fisik sekuat apapun, setiap manusia pasti pernah mengalami sakit. Mulai dari sakit fisik sampai sakit mental. Dari yang kategori ringan sampai berat. Itu sangat manusiawi.

Dalam pandangan Islam, salah satu hikmah dari menderita sakit adalah dapat menggugurkan dosa. Tentu saja jika kita mampu menghadapi sakit itu dengan sabar dan ikhlas. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Rasulullah saw berikut.

“Tiada seorang muslim yang terkena musibah melainkan sebagai kifarat (tebusan) atas dosanya, walaupun ia hanya terkena duri” (H.R. Muslim)

Setiap manusia pasti selalu meminta yang baik-baik bagi dirinya. Minta diberi kesehatan, dilancarkan rezekinya, diberi jodoh yang sholeh/sholehah, diselamatkan dari segala bencana dan marabahaya dll. Nah, bagaimana kalau akhirnya kita malah dikasih sakit? Apa Allah nggak sayang sama kita? No, no, no. That’s not true. Justru itu salah satu bentuk rasa sayang Allah pada kita. Seperti yang sudah saya bilang sebelumnya bahwa salah satu hikmah sakit adalah menggugurkan dosa. Itu berarti Allah ingin mensucikan diri kita. Bahkan dikatakan juga dalam riwayat yang lain, ketika seorang hamba Allah yang mukmin sakit, Allah mengutus 4 malaikat pada orang tersebut.

  1. Malaikat pertama mengambil kekuatannya sehingga ia menjadi lemah
  2. Malaikat kedua mengambil rasa lezatnya makanan dari mulutnya
  3. Malaikat ketiga mengambil cahaya terang di wajahnya
  4. Malaikat keempat mengambil dosa-dosanya sehingga sucilah si sakit ini dari dosa

Ketika seorang hamba mukmin disembuhkan, Allah memerintahkan malaikat pertama, kedua dan ketiga untuk mengembalikan kekuatannya, rasa lezat dari mulutnya dan cahaya di wajahnya. Namun Allah tidak memerintahkan malaikat keempat untuk mengembalikan dosa-dosanya.

Beberapa hari ini kondisi kesehatan saya sempat drop dan sedikit mengganggu aktivitas sehari-hari. Radang tenggorokan saya kumat sehingga agak sakit ketika dipakai menelan sesuatu. Saya juga sempat demam, pusing, pilek dan mata berair. Karena saya punya kewajiban puasa, dengan radang tenggorokan yang kumat membuat tenggorokan terasa kering, gatal dan jadi ingin minum minuman hangat rasanya untuk menjerang tenggorokan saya. Mau baca-baca artikel dan nulis juga jadi agak terganggu karena pusing. Mata pun nggak kuat diajak menatap layar laptop dan hp lama-lama. Akhirnya ya sedikit-sedikit berhenti dan ditinggal tidur haha.

Sakit, walau sekecil apapun pasti nggak nyaman di tubuh. Tapi daripada saya terus mengeluh, mending diterima dan disyukuri aja ya kan? Setidaknya sakit bisa membuat saya lebih menghargai arti kesehatan itu sendiri sehingga kedepannya saya harus lebih hati-hati dalam memperlakukan tubuh, pikiran maupun hati saya. Kadang saya suka dzalim sama tubuh sendiri. Udah tau nggak bisa makan makanan yang banyak pengawet, tetep dihajar. Ya wajarlah radang kumat. Udah tau hidup harus dijalani dengan banyak bersyukur, malah banyak ngeluh, sering negative thinking. Akhirnya stres sendiri. Stres akhirnya bikin sakit fisik. Hadehh, parah bener saya ini T_T

Sakit juga membuat saya harus lebih hati-hati dan disiplin dalam menjaga pola hidup. Waktunya makan ya makan, waktunya istirahat ya istirahat, waktunya kerja ya kerja dst. Lewat sakit pulalah, Allah ingin mengingatkan saya bahwa saya ini hanya manusia biasa. Jadi jangan sombong, jangan merasa paling hebat, jangan merasa paling kuat sehingga harus banyak bersyukur atas segala nikmat-Nya. Apalagi nikmat kesehatan. Bukankah nikmat Allah yang paling sering dilalaikan manusia adalah nikmat kesehatan dan waktu luang? Nah, hati-hatilah ya kalian (saya juga).

Yuk,Kenali 5 Penyebab Writer’s Block dan Solusi Mengatasinya!

ilustrasi : pexels.com

Setelah 3 hari berturut-turut posting puisi di blog ini, hari ini mau posting yang lain. Beberapa hari ini lagi nggak bisa nulis yang berat-berat gara-gara kondisi kesehatan agak drop. Lihat layar laptop atau hp nggak bisa lama-lama. Tapi kalau nggak nulis rasanya kayak ada kurang seharian ini. Serba salah saya jadinya. Yaudah kalau gitu saya mulai aja daripada kelamaan.

Sebelumya saya mau tanya, adakah di antara kalian yang pernah mengalami macet ide? Jadi rasanya kayak ide atau gagasan nggak ada satu pun yang muncul sehingga bingung mau nulis apa. Kalau kalian pernah mengalaminya, itu artinya kalian sedang terkena writer’s block. Apa sih writer’s block itu? Writer’s block bisa diartikan sebagai keadaan dimana seorang penulis tidak dapat menuangkan ide-idenya dalam sebuah tulisan. Lebih sederhanya seperti yang tadi saya bilang di awal, “macet ide”. Keadaan ini ternyata nggak hanya dialami oleh penulis amatir kayak saya aja lho. Penulis profesional pun juga bisa kena writer’s block.
Writer’s block ini memang bikin stres dan juga buang-buang waktu karena kita terkendala dalam mengeksekusi ide menjadi sebuah tulisan. Akhirnya kita cuma bisa bengong memandangi halaman kosong Microsoft Word.

Nah, sebenarnya apa sebabnya seorang penulis bisa terkena writer’s block? Penyebabnya bisa macam-macam tentunya. Tapi disini saya akan sharing penyebab writer’s block yang sering saya alami. Walaupun ini pengalaman pribadi saya, bukan berarti gak relate lho sama yang lain. Bisa jadi kalian ada yang pernah mengalami hal serupa dengan saya atau ada sebab lainnya yang nggak saya sebutkan disini.

  1. Kelelahan Kelelahan yang saya maksud disini bisa lelah fisik bisa lelah pikiran bahkan juga lelah hati #eh. Ya pokoknya namanya kelelahan entah apapun bentuknya memang nggak mendukung untuk menulis. Menulis itu butuh fisik yang prima dan pikiran serta hati yang tenang. Menulis itu butuh fokus dan konsentrasi. Dalam keadaan lelah, fokus dan konsentrasi akan menurun sehingga sangat tidak disarankan untuk menulis. Solusi : sebaiknya istirahat dulu saja. Kalau bisa tidur, itu lebih baik. Setidaknya biarkan rasa lelah itu hilang dulu supaya nanti bisa lebih fresh sehingga bisa berpikir jernih untuk menghasilkan tulisan-tulisan yang baik.
  2. Mood yang buruk Karena saya wanita, tentu setiap bulan pasti kedatangan tamu bulanan. Dan itu kadang memperparah mood yang tadinya sudah jelek. Solusi : hentikan dulu aktivitas menulis dan cari aktivitas lain yang menyenangkan dan membuat rileks. Misalnya, jalan-jalan keluar, mendengarkan musik atau makan hehe.
  3. Kurang data atau referensi Ini biasa terjadi ketika saya ingin menulis sesuatu yang agak berat dan membutuhkan analisis mendalam. Data yang valid dan referensi yang cukup sangat diperlukan untuk mendukung argumentasi. Ketika tulisan yang saya buat kurang data dan referensi yang memadai, disitulah saya merasa stuck. Kalau mau saya paksa lanjutkan, nggak mungkin. Nanti ngawur dan ngalor-ngidul pasti bahasannya. Solusi : tentu saja cari dan telaah terlebih dulu data-data maupun referensi yang dapat mendukung tema dari tulisan yang akan dibuat. Selain itu, beri jeda sejenak bagi diri untuk melakukan analisis terhadap data atau referensi yang diperoleh baru dituangkan ke dalam tulisan.
  4. Tidak ada ide atau inspirasi Masalah ini kalau dibiarkan tanpa penanganan serius akhirnya jadi keterusan dan berakhir dengan kemalasan. Sering kali alasan tidak ada ide atau inspirasi menjadikan sesorang akhirnya berhenti menulis. Kalau akhirnya bisa balik nulis lagi sih nggak masalah. Yang jadi masalah adalah kalau ini dijadikan alasan terus-menerus lama-lama akan menurunkan semangat menulis itu sendiri. Solusi : mau tidak mau, suka tidak suka ya carilah ide dan inspirasi itu. Gimana cara mencarinya? Banyak cara. Terserah mau pilih yang mana. Kalau kalian suka jalan-jalan, ya jalan-jalan ke tempat-tempat wisata bisa jadi cara untuk mencari ide dan inspirasi menulis. Kalau suka nonton film, bisa dengan nonton film yang lagi hits di bioskop sekarang. Kalau suka denger musik, bisa dilakukan dengan dengerin lagu-lagu yang kalian suka dari penyanyi-penyanyi favorit kalian. Saya termasuk yang cukup sering dapat ide dan inspirasi menulis dengan cara ini. Bisa juga dengan diskusi atau ngobrol dengan orang lain (misal : orangtua, kakak, adik, teman bahkan teman seperjalanan di bus kota). Dan yang paling penting adalah jangan malas membaca. Mau nulis apa kalian kalau malas baca?
  5. Terlalu perfeksionis Takut salah, takut jelek, takut dihujat orang, takut nggak ada yang baca dll. Ketakutan-ketakutan ini yang akhirnya bikin saya kebanyakan mikir mau nulis apa nggak. Jujur, saya orangnya agak perfeksionis dan suka kesel sendiri kalau saya sampai melakukan kesalahan atau hasil kerja saya nggak sempurna. Padahal kenyataannya tulisan yang sempurna itu nggak ada. Tulisan sebagus apapun tetap saja ada kekurangannya walaupun sedikit. Solusi : saya mencoba dan belajar untuk bersikap bodo amat sama ketakutan-ketakutan saya ketika menulis. Kalau ada yang mengkritik baik-baik dan memberi solusi ya dengarkan dan terima lalu perbaiki kesalahan yang saya buat. Kalau ada yang menghujat yaudah nggak usah didengerin. Toh, yang menghujat juga belum tentu lebih baik.

Sekian yang bisa saya sharing hari ini. Apakah kalian juga pernah mengalami apa yang saya rasakan? Adakah yang punya pengalaman lain soal writer’s block dan cara mengatasinya?